Sultan HB X Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan

by Reporter Jogja 350 Views

Sultan HB X Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga berakar pada nilai budaya dan pembentukan karakter.

“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri,” ujarnya dalam kegiatan Byawara Pendidikan, di SMAN 6 Yogyakarta, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan nyata di tengah arus globalisasi yang semakin cepat. Oleh karena itu, Yogyakarta memilih pendekatan pendidikan yang tidak sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membudayakan nilai-nilai luhur.

“Kita meyakini bahwa pendidikan tidak boleh dipahami semata-mata sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan,” katanya.

Pendidikan Khas Kejogjaan ini disebut sebagai gerakan kebudayaan yang berangkat dari falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi “Jalma Kang Utama”, yakni manusia yang unggul secara intelektual, matang secara batiniah, serta luhur dalam perilaku.

“Sosok yang menghadirkan ketenteraman bagi sesama dan memiliki jiwa satriya, sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh,” paparnya.

Baca Juga:  Gelar Budaya Sorosutan Ramadan Istimewa 2026

Sri Sultan juga menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat.

Konsep ini dikenal sebagai Tri Sentra Pendidikan yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter generasi muda.

“Pendidikan hidup dalam keseharian, bukan hanya di ruang kelas,” ucapnya.

Selain itu, ekosistem khas Yogyakarta seperti “Kraton, Kampus, dan Kampung” juga dinilai menjadi kekuatan dalam membangun karakter berbasis budaya lokal.

Pendidikan Khas Kejogjaan ini, lanjutnya, menjadi langkah nyata untuk mengintegrasikan nilai budaya dalam sistem pendidikan.

Dia pun mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam menghidupkan nilai-nilai tersebut.

“Peluncuran ini bukan sekadar seremoni, tetapi awal dari gerakan bersama untuk menata masa depan pendidikan Yogyakarta,” tuturnya.

Sri Sultan berharap Pendidikan Khas Kejogjaan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berbudaya.

“Semoga ikhtiar ini menjadi jalan bagi lahirnya generasi yang utama dan membawa kemaslahatan bagi bangsa dan dunia,” tandasnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Muhammad Setiadi, menyebut implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di DIY menunjukkan tren positif.

Capaian indeks karakter peserta didik dinilai sangat memuaskan melalui evaluasi awal yang menunjukkan skor 4,1 dari skala 5.

Baca Juga:  Pemkot Yogyakarta Pastikan Daging yang Beredar ASUH

Setiadi menjelaskan bahwa PKJ tidak disusun secara instan, melainkan melalui proses partisipatif yang melibatkan banyak pihak.

Sejak tahun 2022, Disdikpora DIY telah menggelar berbagai Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga tokoh masyarakat.

“Pada tahun 2023, tim pengembang kemudian menyusun substansi utama yang menghasilkan empat buku panduan PKJ. Buku-buku tersebut mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi,” papar Setiadi.

Nilai-nilai utama yang diusung dalam PKJ bersifat inklusif dan kolaboratif. Materi PKJ menyerap nilai luhur dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan modern.

Implementasi PKJ di satuan pendidikan tidak hanya berhenti sebagai mata pelajaran sejarah saja.

Nilai-nilai tersebut diintegrasikan langsung dalam budaya sekolah dan praktik kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan guna memastikan siswa benar-benar menghidupi budaya tersebut.

“Ke depan, Pendidikan Khas Kejogjaan akan diterapkan secara bertahap pada jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK di seluruh wilayah Yogyakarta,” pungkasnya.

Bagikan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *