JFFE 2026 Perkuat Posisi Jogja sebagai Kota Festival Asia Tenggara

by Jogja Kota 458 Views

JFFE 2026 Perkuat Posisi Jogja sebagai Kota Festival Asia Tenggara

Jogja Festivals Forum and Expo (JFFE) 2026 resmi digelar pada Rabu (15/4/2026) di Gedung PDIN.

Forum ini menjadi ajang strategis yang mempertemukan pelaku festival, ekonomi kreatif, industri pariwisata, hingga investor dalam upaya memperkuat ekosistem ekonomi berbasis kreativitas.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan pertumbuhan ekonomi di kota tidak sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah, melainkan oleh kekuatan para pelaku usaha, investor, dan insan kreatif.

Menurutnya, kota seperti Yogyakarta memiliki karakter berbeda dibandingkan kabupaten.

“Kalau kota itu semi-autopilot. Jadi kalau Jogja maju dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus, itu bukan karena wali kotanya, tetapi karena pelaku-pelaku usaha, investor, dan orang-orang kreatif yang jumlahnya banyak,” ujarnya.

Ia mencontohkan peran tokoh-tokoh kreatif seperti Heri Pemad yang menjadi bagian dari penggerak ekonomi kreatif di Yogyakarta.

Hasto menekankan, sumber daya utama kota bukanlah kekayaan alam, melainkan kualitas sumber daya manusia.

“Kita tidak punya sumber daya alam yang besar. Yang kita punya adalah kreativitas manusia. Kalau manusianya tidak kreatif, kita tidak punya apa-apa,” tegasnya.

Baca Juga:  Jogja Cling Sinergi Pemkot-Kodim Dukung Jogja Bersih

Ia pun menyambut baik penyelenggaraan JFFE sebagai ruang berkumpulnya pelaku ekonomi kreatif yang dinilai menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi kota.

“Kolaborasi berbasis semangat gotong royong, saya kira menjadi satu hal yang sangat penting, until membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di Jogja,” imbuhnya.

Senada dengan itu Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyoroti pentingnya festival tidak hanya sebagai perayaan tahunan, namun sebagai instrumen kesejahteraan yang berkelanjutan.

Ia menyampaikan festival memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi.

Dalam konteks global saat ini, pihaknya menilai bahwa paradigma sumber daya telah bergeser.

“Sumber daya alam bukan lagi yang utama, yang terpenting saat ini adalah kreativitas. Kreativitas adalah sumber daya baru yang tidak terbatas dan menjadi mesin pertumbuhan masa depan. Apalagi Jogja punya lebih dari 50 festival tiap tahun, ini sesuatu yang luar biasa secara nasional bahkan global, khususnya di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Pihaknya juga menekankan pentingnya konektivitas dan keberlanjutan dalam pengembangan ekonomi kreatif, serta mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk koperasi, dalam memperkuat ekosistem tersebut.

Baca Juga:  Pemkot Yogyakarta Alihkan Anggaran Perjalanan Dinas untuk Program Kesejahteraan Masyarakat

Sementara itu Ketua JFFE 2026 sekaligus Direktur Artistik ARTJOG, Heri Pemad, menjelaskan festival seni dan budaya kini tidak lagi sekadar tradisi atau ritual, tapi telah berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif, penguat identitas kota, hingga medium diplomasi budaya.

Menurutnya, Yogyakarta dengan ratusan festival yang dimiliki telah menjadi kota strategis dalam pengembangan ekosistem festival, baik di tingkat nasional maupun Asia Tenggara.

“Festival kini menjadi bagian dari infrastruktur budaya dan ekonomi yang bisa berkelanjutan jika dikelola secara kolaboratif, profesional, dan terintegrasi dengan kebijakan serta industri pendukung,” jelasnya.

Melalui JFFE yang masuk pada tahun ke-7, melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang dipertemukan dalam satu forum untuk merumuskan masa depan festival sebagai bagian penting dari pembangunan kota dan kawasan.

Forum yang berlangsung hingga Kamis 16 April 2026 ini diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus mendorong lahirnya inovasi dalam pengelolaan festival yang berdampak ekonomi luas.

Bagikan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *