Yogyakarta Menuju Kota Festival Dunia, 1.000 Event Disiapkan Dongkrak Wisata dan UMKM

by Reporter Jogja 48 Views

Yogyakarta Menuju Kota Festival Dunia, 1.000 Event Disiapkan Dongkrak Wisata dan UMKM

Pemerintah Kota Yogyakarta kian serius memperkuat citra sebagai “Kota Festival” melalui strategi besar yang mengintegrasikan ratusan hingga ribuan event sepanjang tahun.

Upaya ini tidak sekadar memperbanyak agenda, tetapi memastikan setiap kegiatan terkurasi, berdampak ekonomi, dan mampu menarik wisatawan datang secara terencana.

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan dalam kegiatan media gathering bersama paguyuban wartawan Kota Yogyakarta di Kebon Ndelik, Kamis (16/4/2026).

Menurut Wawan, branding Jogja sebagai Kota Festival harus diikuti dengan konsep yang matang dan kolaborasi lintas sektor agar tidak sekadar menjadi slogan.

“Kalau kita sudah menyebut sebagai Kota Festival, maka yang harus dijawab adalah event-nya apa. Ke depan, kita ingin wisatawan datang ke Jogja bukan karena kebetulan ada acara, tapi memang sengaja datang untuk menghadiri event tertentu,” tegasnya.

Ribuan Event, Kini Disusun Lebih Terarah

Selama ini, Kota Yogyakarta diketahui memiliki lebih dari 1.000 event setiap tahunnya. Namun, belum semuanya memiliki kualitas dan dampak maksimal.

Untuk itu, Pemkot mulai melakukan orkestrasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar seluruh agenda tersusun lebih rapi, saling mendukung, dan memiliki daya tarik kuat.

Langkah ini juga menjadi strategi untuk mengatasi periode low season pariwisata yang biasanya terjadi pada Februari hingga April.

Berbagai event mulai disiapkan untuk mengisi kekosongan tersebut, terutama berbasis budaya.

Beberapa agenda yang diperkuat antara lain Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, perayaan Imlek yang terintegrasi dari Malioboro hingga Ketandan, serta tradisi Ruwahan Agung dan lomba takbiran saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Baca Juga:  Pemda DIY Sampaikan Aspirasi Kesiapan Pendidikan Dasar Gratis

“Ke depan, kita ingin menciptakan event yang benar-benar jadi rujukan. Seperti orang pergi ke luar negeri untuk konser besar, kita juga ingin orang datang ke Jogja karena event tertentu,” imbuh Wawan.

Event Besar Jadi Magnet Wisata dan Edukasi

Selain event budaya, agenda besar seperti ARTJOG juga akan menjadi bagian penting dari orkestrasi kota.

Event seni yang berlangsung hingga dua bulan ini dinilai memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pelajar dan masyarakat terkait dunia seni dan ekonomi kreatif.

Tidak hanya itu, Pemkot juga menyiapkan rangkaian event spektakuler sepanjang Oktober dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta.

Berbeda dari sebelumnya, perayaan HUT akan dikemas selama satu bulan penuh, dari 1 hingga 31 Oktober, dengan beragam kegiatan lintas sektor.

“Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) itu hanya salah satu puncak. Kita sedang menyusun rangkaian besar selama sebulan penuh, mulai dari budaya, perdagangan, hingga aktivitas komunitas,” jelasnya.

Dengan konsep baru, WJNC juga ditargetkan kembali masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara dan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Gandeng Swasta dan Komunitas, Tanpa Swastanisasi

Dalam memperkuat ekosistem event, Pemkot Yogyakarta menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk swasta dan komunitas.

Sejumlah event besar di luar wilayah administratif kota, seperti Kustomfest, juga akan dirangkul dalam satu narasi promosi bersama.

“Kita tidak mengambil alih event milik pihak lain, tapi duduk bersama untuk saling mendukung. Pemerintah sebagai orkestrator, sementara swasta dan komunitas sebagai mitra,” terang Wawan.

Kolaborasi ini juga mencakup dukungan promosi, penguatan ekosistem, hingga distribusi dampak ekonomi yang merata, seperti penyebaran okupansi hotel dan aktivitas wisata ke berbagai kawasan.

UMKM Jadi Bagian dari Pengalaman Wisata

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menegaskan bahwa pelaku UMKM akan menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata berbasis event.

Baca Juga:  1200 Pesepeda Siap Menjelajahi Keindahan Jogja

Menurutnya, UMKM tidak lagi sekadar tempat berbelanja, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

“Ke depan, wisatawan tidak hanya membeli produk, tapi juga melihat proses pembuatannya, memahami cerita di baliknya, hingga merasakan nilai lebih dari produk tersebut,” ujarnya.

Berbagai agenda seperti Gebyar UMKM akan terus dikolaborasikan dengan event besar.

Selain itu, konsep Coffee Night di kawasan Malioboro juga tengah disiapkan untuk melibatkan lebih banyak pelaku UMKM lokal.

Pemkot juga sedang mengembangkan merchandise resmi Kota Yogyakarta yang dikurasi dari sisi desain, kualitas, hingga hak kekayaan intelektual (HAKI) guna meningkatkan daya saing produk lokal.

Event Terbukti Dongkrak Kunjungan Wisata

Dari sisi pariwisata, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muh Zandaru Budi Purwanto, mengungkapkan bahwa penguatan event terbukti memberikan dampak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan.

Sepanjang 2025, jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta mencapai sekitar 11 juta orang, termasuk 314 ribu wisatawan mancanegara.

“Rata-rata lama tinggal wisatawan saat ini 1,77 hari. Dengan penguatan event, kami optimistis bisa mencapai dua hari. Rata-rata belanja wisatawan juga sudah mencapai Rp2,28 juta per orang,” jelasnya.

Ia menambahkan, lonjakan kunjungan biasanya terjadi saat event besar berlangsung. Namun ke depan, Pemkot ingin memperluas dampak tersebut melalui penguatan event skala menengah dan kecil, serta kolaborasi lintas wilayah.

Dengan strategi ini, Pemkot Yogyakarta menargetkan wisatawan tidak hanya datang singkat, tetapi tinggal lebih lama untuk menikmati rangkaian event yang tersusun sepanjang tahun.

“Harapannya wisatawan tidak hanya datang satu hari, tapi bisa tinggal lebih lama karena banyak pilihan event. Ini yang sedang kita bangun, ekosistem event yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat branding Jogja sebagai Kota Festival, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, hingga UMKM lokal.

Bagikan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *