Sketsa Nusantara Hidupkan Pesona Kotagede Lewat Goresan Seni
Lorong-lorong kampung, rumah tradisional, bangunan bersejarah hingga kehidupan masyarakat Kotagede menjadi sumber inspirasi para seniman dari berbagai daerah untuk menuangkannya dalam goresan sketsa.
Melalui 1O1 Travel Sketch x Sketsa Nusantara Chapter #4, kawasan Kotagede diperkenalkan melalui cara yang kreatif sekaligus mengajak wisatawan menikmati Yogyakarta dengan lebih dekat.
Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Prof. KH Abdoel Kahar Moezakir, Kotagede, Minggu (8/8/2026), dan dihadiri Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Sekitar lebih dari 55 peserta mengikuti kegiatan ini, dengan sekitar 70 persen di antaranya berasal dari luar Kota Yogyakarta.
Peserta datang dari berbagai daerah, antara lain Medan, Banjarbaru, Bengkulu, Bandung, Jakarta, Surabaya, Jawa Tengah dan daerah lainnya.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi kegiatan yang mempertemukan seni, budaya, sejarah dan pariwisata tersebut.
Menurutnya, Kotagede memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Yogyakarta.
“Sebetulnya Kotagede ini ibarat mutiara, hanya butuh digosok, sehingga harganya nanti bisa lebih terkenal dan kemudian juga lebih memberi manfaat kepada semuanya,” ujar Hasto.
Menurutnya, keberadaan seniman, budayawan, komunitas, pelaku usaha pariwisata hingga masyarakat menjadi kekuatan penting dalam mengangkat potensi Yogyakarta.
Kegiatan sketsa menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana kreativitas dapat menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dekat kehidupan serta budaya lokal.
Hasto juga menilai keberadaan bangunan dan museum bersejarah di Kotagede perlu semakin dikenalkan.
Salah satunya Rumah Prof. KH Abdoel Kahar Moezakir yang menjadi lokasi kegiatan.
Ia menyebut Yogyakarta memiliki banyak karya seni dan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, museum dan peninggalan sejarah tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran.
“Yogyakarta itu banyak karya, banyak budayawan, banyak seniman, tapi museumnya perlu diekspos lebih tinggi lagi. Agar karya-karya besar para seniman dan budayawan di Yogyakarta ini bisa ada dalam materi pengajaran bagi generasi-generasi berikutnya,” katanya.
Hasto juga menyinggung nilai sejarah Rumah Prof. KH Abdoel Kahar Moezakir. Tempat tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah perumusan Piagam Jakarta.
Menurutnya, pengenalan sejarah melalui ruang-ruang yang ada di Kotagede penting agar generasi muda tidak kehilangan keterhubungan dengan perjalanan bangsa.
“Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tidak pernah lupa dengan sejarah, maka akan selalu mengambil semangat untuk perjuangan bagi anak-anak muda,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi para peserta Sketsa Nusantara yang datang dari berbagai daerah untuk mengenal dan merekam Kota Yogyakarta melalui karya seni.
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana seniman dan budayawan dapat berperan dalam menjadikan Yogyakarta sebagai magnet wisata.
“Kalau kita punya seniman, punya budayawan, bagaimana kita bisa menggerakkan yang ada di luar Jogja dan Jogja harus bisa menjadi magnet. Ini implementasi dari para seniman, budayawan, kemudian bisa menjadi magnet,” katanya.
Sementara itu, General Manager THE 1O1 Yogyakarta Tugu, Wahyu Wikan Trispratiwi mengatakan, 1O1 Travel Sketch telah menjadi bagian dari perjalanan hotel sejak 2018.
Memasuki penyelenggaraan keempat, kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara seni, budaya, pariwisata dan komunitas kreatif.
Para peserta tidak hanya datang untuk melihat destinasi, tetapi menghabiskan waktu untuk mengamati, berinteraksi dan merekam pengalaman mereka melalui karya.
“Kami mendorong wisatawan yang minatnya khusus, bukan pariwisata massal, tapi adalah pariwisata berkualitas,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama 8-9 Agustus 2026. Peserta mengikuti workshop urban sketching bersama sejumlah seniman, di antaranya Augustinus Madya dan Iqbal Amidha.
Peserta juga mendapatkan pengalaman menyaksikan live sketch bersama Sudarman Angir serta mengikuti food sketch yang mengangkat pengalaman kuliner.
Bagi peserta, Kotagede menawarkan banyak objek yang menarik untuk direkam dalam sebuah karya.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat hadir dalam berbagai bentuk.
Bagi para sketcher, menikmati Kotagede bukan hanya dengan melihat dan memotret, tetapi dengan berhenti sejenak, mengamati setiap detail, kemudian mengabadikannya melalui goresan.


